
[ad_1]

Portalkendari.com – Santriwati dan santriwan Madrasah Aliyah (MA) Ummusshabri Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) masuk 10 besar ajang Debat Bahasa Inggris Musabaqoh Qiro’atil Kutub Nasional (MQKN).
Perlombaan debat ini merupakan bagian dari MQKN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI yang berlangsung pada 1-8 Oktober 2025.
Acara ini berpusat di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Diketahui, MQKN adalah cabang perlombaan yang mengkaji kemampuan santri dalam menyampaikan, mempertahankan dan menggugurkan argumen dalam berbahasa Inggris secara kritis dan ilmiah berdasarkan nilai-nilai keislaman terkait topik-topik terkini.
MA Ummusshabri mengirimkan dua tim, yaitu tim putra dan tim putri, untuk mengikuti cabang debat ini melawan puluhan sekolah yang ada di Indonesia.
Dalam podcast Tribun Corner yang tayang di channel YouTube TribunnewsSultra.com, Senin (13/10/2025), para peserta debat dari santri MA Ummusshabri mengungkapkan pengalamannya.
Kholiz dan Faizal menyebut bahwa timnya mulai menjalani proses persiapan sejak enam bulan sebelum seleksi tingkat provinsi digelar.
Baca juga: Kisah Santri Rela Kehilangan Tangan usai Terjepit Reruntuhan Ponpes Al Khoziny, Tak Punya Pilihan
Setelah berhasil lolos sebagai wakil Sulawesi Tenggara, mereka melanjutkan latihan secara intensif selama lebih dari satu bulan menjelang kompetisi tingkat nasional di Sengkang, Sulawesi Selatan.
“Saya nggak percaya bisa sampai di tahap ini, kita pikir tidak bisa bersaing dengan orang-orang di provinsi lain pikiran kami mereka Bahasa Inggrisnya wow banget gitu. Tapi bisa juga ternyata, cuman harus dikembangkan lagi sih,” kata Kholiz dan Faizal, anggota tim debat putra.
“Debatnya memang dibagi, ada yang khusus putri dan khusus putra. Untuk kategori putra, jumlah pesertanya sekitar 17 tim dari berbagai provinsi,” sambung Kholiz.
Dalam perlombaan yang berlangsung selama sepekan, para peserta menghadapi beberapa topik, seperti isu-isu lingkungan dalam perspektif islam.
Kholiz dkk mempersiapkan materi debat hingga mosi yang akan dibahas. Namun menariknya, para peserta belum mengetahui terkait posisi debat apakah pro maupun kontra.
“Barulah setelah debat kami ditetapkan sebagai posisi pro dengan mosi rekonstruksi kitab dalam mengimplementasikannya agar membantu mitigasi atas perubahan iklim yang terjadi sekarang dalam mengurangi bencana alam,” ujar Faizal.
Berbeda dengan tim putra, tim putri mengangkat isu perlindungan anak sebagai tema utama dalam sesi debat mereka. (*)
Artikel ini ditulis tim magang mahasiswa dari Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Mereka adalah Kamaria, Fifi, Siti Norani, Meli Alisa, dan Wa Ode Iin.
(TribunnewsSultra.com)
[ad_2]