
[ad_1]

Portalkendari.com, BAUBAU – Mengenal Haroana Maludhu, tradisi masyarakat Buton di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) peringati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Haroana Maludhu adalah haroa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Buton yang terdiri dari tiga tahapan.
Ketiga tahapan tersebut, yakni Goraana Oputa atau tradisi pemanjatan doa sultan demi keselamatan rakyatnya.
Goraana Miabari adalah tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat Buton dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad.
Maludhu na Hukumu adalah proses akhir dari Haroana Maludhu yang dilakukan oleh Lakina Agama.
Baca juga: Menelusuri Baluara di Benteng Keraton Buton, Jadi Menara Pantau hingga Penyimpanan Peluru dan Mesiu
Lakina Agama adalah pimpinan tertinggi perangkat masjid di Kesultanan Buton.
Haroana Maludhu adalah haroa besar bagi masyarakat Buton dan selalu dilaksanakan.
Warga, Wa Ode Suryani mengatakan dalam pelaksanaan Haroana Maludhu dirumah warga, bhisa atau pembaca doa perempuan memimpin ketika talang haroa hendak dimasukkan.
“Bhisa tersebut juga sudah menyucikan diri terlebih dahulu sebelum proses memasukkan isi haroa,” ujarnya, Rabu (10/9/2025).
Terdapat kain putih yang diletakkan sebagai alas talang haroa, tanda penghormatan kesakralan.
Sebab anggapan masyarakat Buton, Rasulullah SAW ialah manusia yang paling suci di bumi.
Tidak hanya bhisa, kain yang menjadi alas, talang, perabot dan makanan dalam Haroana Maludhu harus disucikan.
Baca juga: Bumikan Kabanti, Komunitas Budaya di Baubau Bakal Tampilkan di Benteng Keraton Buton, Bus, dan Kapal
Proses menyucikan menggunakan asap yang dibakar dalam tempat dupa.
“Yang utama itu Kinande Mambaka atau nasi enak,” katanya.
Sementara untuk isi talang, kebiasaannya minimal sekitar 40 macam kue dan bisa lebih.
[ad_2]