
[ad_1]

Portalkendari.com, KENDARI – Ratusan Aparat Kepolisian dikerahkan untuk mengamankan demonstrasi mahasiswa September Berdarah di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Aparat kepolisian terlihat memulai pengamanan dengan gelar apel pasukan di kawasan Jalan Drs H Abdullah Silondae, depan papan nama kantor wali kota, Kelurahan Mandonga Kecamatan Mandonga, Jumat (26/9/2025) pagi.
Demonstrasi September Berdarah adalah sebutan demo untuk menuntut keadilan atas kematian dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) bernama Randi dan Yusuf.
Randi, mahasiswa Fakultas Perikanan UHO, dan Yusuf Kardawi, mahasiswa Fakultas Teknik UHO.
Mereka tewas saat aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Sultra, Jalan Tebaununggu-Jalan Drs H Abdullah Silondae, Mandonga, pada 26 September 2019, atau 6 tahun yang lalu.
Baca juga: Mahasiswa Teknik UHO Kendari Teatrikal di Depan Polda Sultra Kenang Tragisnya Kematian Randi-Yusuf
Kantor DPRD Sultra berseberangan di sisi kiri kantor wali kota yang jaraknya sekira 700an meter.
Kematian Randi-Yusuf karena tertembak oleh oknum polisi saat protes Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana alias RKUHP dan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Dari pantauan TribunnewsSultra.com, Kepala Kepolisian Resor Kota atau Kapolresta Kendari, Kombes Pol Edwin Louis Sengka, memimpin apel gelar pasukan.
Dalam penyampaiannya, Kapolresta menekankan kepada seluruh anggota untuk humanis dalam mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa.
“Mereka adalah saudara kita yang menyampaikan aspirasinya, kita jaga, beri mereka rasa aman hingga demonstrasi selesai,” ungkapnya pada Jumat (26/9/2025).
Aparat Kepolisian yang berjaga sebanyak 558 personel, terdiri dari:
• Polresta Kendari: 158 personel
• Kepolisian Resor atau Polres Konawe: 20 personel
• Polres Konawe Selatan: 30 personel
• Korps Brigade Mobil atau Brimob: 196 personel
• Kepolisian Daerah atau Polda Sultra: 154 personel.(*)
(TribunnewsSultra.com/ La Ode Ahlun Wahid)
[ad_2]